nara's posts with tag: sejarah jakarta

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag sejarah jakarta
Blog EntrySEJARAH NAMA2 TEMPAT/DAERAH DI JAKARTAFeb 27, '08 9:48 PM
for everyone

     Terpikirkah oleh kita bahwa tempat kita tinggal ini memiliki sejarah menarik yang bersangkutan dengan terciptanya nama jalan atau nama  suatu tempat (daerah) yang sering kita lewati atau kita dengar...  Berikut ini adalah beberapa  contoh yang bisa kita jadikan referensi bermanfaat, setidaknya agar kita lebih mengenal lagi Jakarta kita ini.
*(Referensi tulisan dibawah ini didapat dari berbagai sumber di net.)



BIDARACINA

     Asal nama daerah ini adalah dari sebuah pohon "Bidara" yang ditanam oleh orang Cina di situ. Bidara, atau bahasa ilmiahnya Zizyphus jujube Lam. Merupakan pohon yang kayunya cukup baik sebagai bahan bangunan. Akar dan kulitnya rasanya pahit, bisa menjadi obat penyembuh untuk berbagai macam penyakit, antara lain sesak nafas. Walaupun pohon ini bergetah, buahnya bisat dimakan.

     Menurut kabar para penduduk Cina ini terikat kontrak (kemungkinan dengan pemerintah Belanda pada masa itu) yang aktanya dibuat oleh Notaris Reguleth tertanggal 9 Oktober 1684, yang isinya kewajiban untuk menanami kawasan sekitar benteng Noordwijk dengan pohon buah-buahan, termasuk pohon Bidara ini. Mungkin dikarenakan begitu banyak pohon bidara yang ditanam di 'daerah' ini, jadilah daerah ini disebut Bidaracina.

     Disamping cerita tentang pohon tersebut, ada pula pendapat lain yang mengemukakan bahwa asal muasal kata Bidaracina karena sebuah kejadian yang memilukan tahun 1740, dimana terjadi pemberontakan penduduk cina terhadap pemerintah Belanda (sebenarnya didaerah lain juga terjadi pemberontakan sedemikian), lalu mengakibatkan ribuan orang cina terbunuh bermandikan darah. Disebutlah kejadian sebagai 'cina berdarah', yang disesuaikan lagi dengan bahasa melayu menjadi 'cinabedara'. Mungkin saja dalam perkembangannya menjadi 'Bedaracina' (???)




CILILITAN


     Nama Cililitan diambil dari nama salah satu anak sungai Ci Cipinang. Dewasa ini anak sungai tersebut sudah tidak ada lagi bekas-bekasnya. Kata ci, adalah bahasa Sunda, mengandung arti 'air sungai', dan Lilitan dari 'lilitan-kutu' yaitu nama semacam perdu  yang bahasa ilmiahnya Pipturus velutinus Wedd.

    Pada pertengahan abad ke- 17 kawasan Cililitan merupakan bagian dari tanah partikelir Tandjoeng Oost, ketika masih dimiliki oleh  Pieter van der Velde . Kemudian beberapa kali berpindah pindah tangan. Sampai diganti namanya menjadi lapangan Udara Halim Perdanakusumah. Lapangan udara tersebut biasa disebut Lapangan Udara (vliegeld, kata orang Belanda) Cililitan.



PONDOK GEDE


     Merupakan penyebutan wilayah yang ada dipinggiran sebelah Timur Jakarta yang berbatasan dengan daerah Bekasi. Yang tersisa sekarang adalah penyebutan untuk Pasar Pondok Gede. Nama Pondok Gede berasal dari sebuah bangunan besar yang disebut dengan Landhuis. Bangunan Landhuis adalah rumah besar yang terletak dipinggiran kota sebagai tempat tinggal dan sekaligus sebagai tempat pengurus usaha pertanian dan peternakan.
Sekitar tahun 1775 lokasi ini adalah lahan pertanian dan peternakan yang disebut juga dengan anderneming.

     Pondok Gede adalah milik tuan tanah yang bernama Johannes Hoojiman yang kaya raya. Bangunan pondok gede merupakan satu -satunya bangunan rumah besar yang ada dilokasi tersebut dan bagi masyarakat pribumi sering disebut pondok gede.




CONDET, BATUAMPAR


     Nama Condet berasal dari nama sebuah anak sungai Ci Liwung, yaitu Ci Ondet. Ondet, atau ondeh, atau ondeh-ondeh; adalah nama pohon yang nama ilmiahnya Antidesma diandrum Sprg., termasuk famili Antidesmaeae, mirip dengan pohon buni, yang buahnya biasa dimakan.

      Batuampar sendiri konon berasal dari sebuah cerita, sebagaimana diceritakan oleh orang – orang tua di Condet kepada Ran Ramelan, penulis buku kecil berjudul Condet, sebagai berikut;

     Pada jaman dulu ada sepasang suami istri, namanya Pangeran Geger dan Nyai Polong, memiliki beberapa orang anak. Salah seorang anaknya, perempuan, diberi nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Waktu Maemunah sudah dewasa dilamar oleh Pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makasar  yang tinggal di sebelah timur Condet, untuk salah seorang anaknya, bernama Pangeran Astawana.

      Siti Maemunah minta supaya dibangunkan sebuah rumah dan sebuah tempat bermain-main di atas empang, dekat kali Ciliwung, yang harus selesai dalam waktu satu malam. Permintaan itu disanggupi dan terbukti, menurut kisahnya, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di sebuah empang di pinggir kali Cliwung, sekaligus dihubungkan dengan jalan yang diampari dengan batu, mulai dari tempat kediaman keluarga Pangeran Tenggara .

     Demikianlah, menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut Batuampar, lalu bale (Balai) peristirahatan yang seolah – olah mengambang di atas air kolam dijadikan nama tempat; Balekambang.




CIJANTUNG


     Sebenarnya Cijantung adalah nama anak sungai Ciliwung yang berhulu di Areman (sekarang; Kelapa Dua).

     Ditemukannya daerah ini diawali oleh Ekspedisi Kapten Muller yang mengadakan perjalanan selama 3 hari, merambah hutan (dahulu sekitar batavia masih hutan) menyusuri tepi sungai Ciliwung. Sebetulnya masa itu sudah ada jalan darat yang dibuka, biasa digunakan orang banten ke priangan. Namun kapten Muller ingin menemukan gerombolan orang-orang Mataram di daerah pedalaman. Hingga akhirnya rombongannya sampai di tempat yang hanya berpenghuni 12 orang saja, dipimpin oleh Prajawangsa. Tempat itulah kemudian dikenal dengan 'Cijantung'



CILINCING


     Nama Cilincing diambil dari nama anak sungai yang mengalir dari selatan ke utara, membelah kawasan tersebut. Cilincing mungkin lengkapnya berasal dari Ci Calincing. Kata Ci, adalah bahasa sunda , yang artinya sungai, seperti Ci Tarum, Ci Liwung, dan Ci Manuk.Cilincing adalah nama jenis pohon, sama dengan belimbing wuluh, averhrhoa Carambola L.




MATRAMAN


     Matraman yang sekarang masuk wilayah Jakarta Timur, dulu berasal dari nama"Mataram". Di tempat inilah dulu pasukan Mataram Sultan Agung berkemah ketika pernah dua kali melakukan penyerangan ke Batavia, yang waktu itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen (1628 dan 1629).

     Menurut F. de Haan dalam bukunya yang berjudul Oud Batavia, kawasan itu diberikan kepada orang-orang Jawa dan Mataram, mungkin setelah Mataram berada di bawah pengaruh Kompeni, menyusul ditandatanganinya perjanjian antara Mataram dengan VOC tertanggal 28 Februari 1677.



PASEBAN


     Merupakan nama kampung sekaligus nama kelurahan yang ada di wilayah Jakarta Pusat. Paseban berasal dari kata yang artinya tempat berkumpul, yaitu tempat berkumpulnya pasukan Sultan Agung dari Jawa Tengah dalam penyerangan Kota Batavia pada tahun 1628 -1629. Letak kampung Paseban dekat dengan kampung Matraman yang memiliki sejarah asal-usul yang sama.



PALMERIAM dan GUDANG PELURU


     Palmeriam (Matraman) dan Gudang Peluru (bhs. latin: Arsenal, Kp. Melayu), menyiratkan pernah terjadinya pertempuran hebat antara pasukan Inggris (dipimpin Kolonel Gillespie) melawan Belanda; yang waktu itu berinduk semang Perancis (Napoleon Bonaparte) di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Marsekal HW Daendels; yang dimenangkan oleh Inggris. Pertempuran ini terjadi di tahun1811, sekaligus sebagai awal pendudukan Inggris di Jawa hingga tahun 1816.




RAWA BUNGA/ RAWA BANGKE


     Didekat Paal Meriam terdapat kampung Solitude, yang kebanyakan penghuninya adalah warga betawi asli. Solitude berasal dari bahasa Inggris yang berarti 'kesunyian'. Karena pada waktu itu banyak anggota tentara Inggris yang tewas pada saat menggempur Batavia, mayatnya bergelimpangan dirawa-rawa. Sehingga akhirnya dinamakan Rawa Bangke. Entah kenapa akhirnya nama Rawa Bangke diubeh menjadi Rawa Bunga. Biar hoki kali yaa.




KAMPUNG AMBON


               Merupakan penyebutan nama tempat yang ada di Rawamangun, Jakarta Timur. Nama ini sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP. Coen sebagai menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Gubernur Jenderal VOCAmbon mencari bantuan dengan menambah pasukan dari masyarakat Ambon. Pasukan Ambon yang dibawa Coen dimukimkan disebuah tempat. Tempat yang dihuni mayoritas orang Ambon itu lalu kita kenal sebagai Kampung Ambom, terletak didaerah Rawamangun, Jakarta Timur.




GAMBIR


     Kata Gambir sudah dikenal sejak lama, sejak kawasan ini mulai mengacu pada sebutan masyarakat lokal yang melihat banyaknya pohon gambir yang tumbuh dikawasan ini.

     Dahulu dikenal dengan sebutan Kampung Gambir. Sekarang ini hanya tinggal kenangan saja, yang tersisa adalah nama Kelurahan Gambir dan nama Stasiun Gambir yang masih tertinggal pada salah satu stasiun yang ada di wilayah Jakarta Pusat. Wilayah yang termasuk pada kawasan Gambir  batas – batasnya adalah: diutara jalan Veteran, di Selatan jalan Kebon Sirih, di Barat jalan Mojopahit dan di Timur kali Ciliwung.




GLODOK


     Mengenai asal–usul nama kawasan itu terdapat beberapa pendapat. Ada yang mengatakan berasal dari kata grojok, atau suara kucuran air dari pancuran. Memang cukup masuk akal, karena di sana jaman dulu terdapat semacam waduk penampungan air dari kali Ciliwung, yang dikucurkan  dengan pancuran terbuat dari kayu dari ketinggian kurang lebih 10 kaki. Kata grojok kemudian diucapkan 'glodok' oleh orang–orang Tionghoa totok, penduduk mayoritas  kawasan itu.  Terciptalah daerah Glodok sesuai dengan lidah penghuninya.

     Keterangan lainnya menyebutkan, bahwa kata glodok diambil dari sebutan terhadap jembatan yang melintas Kali Besar (Ciliwung) di kawasan itu, yaitu jembatan Glodok. Disebut demikian karena dahulu di ujungnya terdapat tangga–tangga menempel pada tepi kali, yang biasa digunakan untuk mandi dan mencuci oleh penduduk di sekitarnya. Dalam bahasa Sunda, tangga semacam itu disebut glodok, sama seperti sebutan bagi tangga rumah.




KAMPUNG BALI


     Di wilayah Propinsi DKI Jakarta terdapat beberapa kampung yang menyandang nama Kampung Bali, karena pada abad ketujuhbelas atau kedelapanbelas dijadikan pemukiman orang– orang Bali, yang masing – masing dipimpin kelompok etnisnya.

     Balimester tercatat sebagai perkampungan orang – orang Bali sejak tahun 1667. Kampung Bali Krukut, terletak di sebelah barat Jalan Gajahmada sekarang yang dahulu bernama Molenvliet West. Di sebelah selatan, perkampungan itu berbatasan dengan tanah milik Gubernur Reineir de Klerk (1777 – 1780), dimana dibangun sebuah gedung peristirahatan, yang dewasa ini dijadikan Gedung Arsip Nasional.  Kampung Bali Angke sekarang menjadi kelurahan Angke, Kecamatan Tambora Jakarta Barat. Disana terdapat sebuah masjid tua, yang menurut prasasti yang terdapat di dalamnya, dibangun pada 25 Sya’ban 1174 atau 2 April 1761.Sekarang dikenal dengan Mesjid Angke.




GONDANGDIA


      Asal usul nama kampung Gondangdia ternyata ada beberapa versi, diantaranya adalah:

1. Nama Gondangdia berasal dari nama pohon Gondang (sejenis pohon beringin) yang tumbuh pada tanah basah atau berair. Kemungkinan pada masa lalu ada pohon Gondang yang tumbuh di daerah ini.

2. Nama Gondangdia berasal dari nama binatang air sejenis keong Gondang. Yang artinya keong besar. Kemungkinan pada masa lalu didaerah ini banyak terdapat keong besar, sehingga masyarakat menyebut tempat ini dengan menyebut nama keong.

3. Nama Gondangdia berasal dari nama seorang kakek yang terkenal dan disegani oleh masyarakat sekitar kampung. Kakek ini mempunyai nama kondang dan sering juga dipanggil Kyai kondang. Karena terkenal dikalangan masyarakat kampung, nama kakek kondang sering disebut – sebut dan masyarakat sering mengaitkan nama tempat itu dengan nama kakek, maka disebut dengan gondangdia (kakek dia yang tersohor).


CAWANG, KAMPUNG MELAYU

     Nama kawasan tersebut berasal dari nama seorang Letnan Melayu yang mengabdi kepada Kompeni, yang bermukim disitu bersama pasukan yang dipimpinnya. Namanya Enci Awang. Konon nama aslinya adalah Anwar tetapi disebut Awang. Lama – kelamaan sebutan Enci Awang berubah menjadi Cawang.

     Letnan Enci Awang adalah bawahan dari Kapten Wan Abdul Bagus, yang bersama pasukannya bermukim dikawasan yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Melayu, tempat pemukiman orang melayu. Wan Abdul Bagus adalah anak Ence Bagus, kelahiran Patani, Thailand Selatan. Ia terkenal pada jamannya sebagai orang yang cerdas dan piawai dalam melaksanakan tugas, baik administratif maupun di lapangan sebagai perwira. Boleh dikatakan selama hidupnya ia membaktikan diri pada Kompeni. Dimulai sebagai juru tulis, kemudian menduduki berbagai jabatan, seperti juru bahasa, bahkan sebagai duta atau utusan.

     Kapten Wan Abdul Bagus meninggal dunia tahun 1716, ketika usianya genap 90 tahun. Kedudukannya sebagai kapten orang – orang Melayu digantikan oleh putranya yang tidak resmi, Wandullah, karena ahli waris tunggalnya, Wan Mohammad, meninggal dunia mendahului ayahnya.



PANCORAN (Glodok)


     Ini tentang Pancoran yang di glogok, kec. tamansariPancoran berasal dari kata Pancuran. Di kawasan itu pada tahun 1670 dibangun semacam waduk atau “aquada” tempat penampungan air dari kali Ciliwung, yang dilengkapi dua buah pancuran itu mengucurkan air dari ketinggian kurang lebih 10 kaki.

      Dari sana air diangkut dengan perahu oleh para penjaja yang menjajakannya disepanjang saluran–saluran (grachten) di kota. Dari tempat itu pula kelasi-kelasi biasa mengangkut air untuk kapal– kapal yang berlabuh agak jauh dilepas pantai, karena dipelabuhan Batavia kapal tidak dapat merapat. Karena banyaknya yang mengambil air dari sana, sering kali mereka harus antri berjam– jam. Tidak jarang kesempatan itu mereka manfaatkan untuk menjual barang – barang yang mereka selundupkan.



PEJAMBON

     Kampung Pejambon baru ada sejak Daendels membuka daerah ini dengan sebutan Weltevreden. Kata 'pejambon' berasal dari kata 'penjaga Ambon'. Penjagaan tersebut berada di sebuah jembatan yang melintasi kali Ciliwung dan penjaganya orang Ambon. Pejambon juga tempat tinggal Nyai Dasima ketika dia menjadi nyai (istri piaraan) tuan Willem, seorang pembesar Inggris. Dia kemudian menjadi istri Samiun, tukang sado dari Kwitang, dan dibunuh oleh Bang Puase, jagoan Kwitang, atas perintah Hayati, istri tua Samiun.





MUARA ANGKE

    Asal – usul kata angke berasal dari bahasa Cina dengan dua suku kata, yaitu ang yang artinya darah dan Ke yang artinya bangkai. Kampung ini dinamakan Angke karena adanya peristiwa sejarah yang sangat berhubungan dengan sejarah kota Batavia. Pada tahun 1740 ketika terjadi pemberontakan orang–orang Cina di Batavia, ribuan orang Cina dibantai oleh Belanda.

     Mayat orang–orang Cina yang bergelimpangan dibawa dan dihanyutkan ke kali yang ada didekat peristiwa tersebut, sehingga kampung dan kali yang penuh dengan mayat itu diganti penduduk dengan nama Kali Angke/ Muara Angke dan kampung Angke.     

     Sebelum peristiwa itu terjadi, kampung itu namanya adalah kampung Bebek, hal ini karena orang Cina yang tinggal dikampung itu banyak yang berternak bebek.




PONDOK RANGON


     Asal-usul nama Kampung Pondok Rangon berdasarkan cerita lisan masyarakat adalah sebagai berikut. Pada masa lalu ada seorang lelaki tua (aki-aki) yang bermukim disuatu tempat dengan seorang nenek-nenek yang ditemukan ditempat tersebut tanpa melalui perkawinan. Bagi masyarakat Sunda menyebut kehidupan kakek nenek itu dengan istilah Rangon. Karena kakek nenek itu tinggal di suatu pondok, maka masyarakat menyebut tempat itu dengan nama pondok rangon.




KAMPUNG MAKASAR

     Disebut Kampung Makasar, karena sejak tahun 1686 dijadikan tempat pemukiman  orang–orang Makasar, di bawah pimpinan Kapten Daeng Matara.

      Mereka adalah bekas tawanan perang yang dibawa ke Batavia setelah Kerajaan Gowa, dibawah Sultan Hasanuddin tunduk kepada Kompeni yang sepenuhnya dibantu oleh Kerajaan Bone dan Soppeng. Pada awalnya mereka di Batavia diperlukan sebagai budak, kemudian dijadikan pasukan bantuan, dan dilibatkan dalam berbagai peperangan yang dilakukan oleh Kompeni. Pada tahun 1673 mereka ditempatkan di sebelah utara Amanusgracht, yang kemudian dikenal dengan sebutan Kampung Baru.



KARET TENGSIN


      Merupakan nama kampung yang ada disekitar kampung Tanah Abang. Nama ini berasal dari nama orang Cina yang kaya raya dan baik hati. Orang itu bernama Tan Teng Sien . Karena baik hati dan selalu memberi  bantuan kepada masyarakat sekitar kampung, maka Teng Sien cepat dikenal.

     Selain itu disekitar daerah ini pada waktu itu banyak tumbuh pohon karet karena masih berupa hutan.

     Pada waktu Ten Sien meninggal, banyak masyarakat yang datang melayat. Bahkan ada yang datang dari luar Jakarta, seperti dari Jawa Tengah dan Jawa Timur Teng Sien dikenal oleh masyarakat sekitar dan selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Teng Sien. Karena pada waktu itu banyak pohon karet, maka daerah ini terkenal sampai sekarang dengan nama Karet Tengsin.



KEBAYORAN


     Kebayoran berasal dari kata kabayuran, yang artinya “tempat penimbunan kayu bayur”.   Kayu bayur ini sangat baik untuk dijadikan bahan bangunan karena keras, kuat dan tahan dari serangan rayap.Di penimbunan tersebut juga ada kayu-kayu jenis lain. Kayu–kayu gelondongan yang dihasilkan kawasan tersebut dan sekitarnya diangkut ke Batavia melalui Kali Krukut dan Kali Grogol, dengan cara dihanyutkan. Berbeda dengan keadaan sekarang, kedua sungai tersebut pada jaman itu cukup lebar dan berair dalam.

    Sekitar tahun 1938 di kawasan Kebayoran direncanakan akan dibangun sebuah lapangan terbang internasional, namun dibatalkan karena pecah Perang Dunia Kedua. Kemudian, mulai tahun 1949 di tempat yang direncanakan untuk lapangan terbang itu dibangunlah Kota Satelit Kebayoran Baru, meliputi areal seluas 730 ha, yang menurut rencana cukup untuk dihuni oleh 100.000 jiwa, suatu jumlah yang jauh sekali dibandingkan dengan kenyataan jumlah penduduk kebayoran baru saat ini.



KEBON SIRIH


     Sesuai dengan namanya, sudah bisa kita duga kalau dahulu daerah ini memang merupakan kebun tanaman sirih.  Tanaman merambat, yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Chavica densa Miq., termasuk famili Piperaceae itu, sangat digemari banyak orang untuk dikunyah–kunyah, istilahnya: makan sirih. Kelengkapannya antara lain, adalah kapur (sirih), pinang dan gambir.



RAGUNAN


     Nama Ragunan berasal dari Pangeran Wiraguna, yaitu gelaran yang disandang tuan tanah pertama kawasan itu, Hendrik Lucaasz Cardeel, yang diperolehnya dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar, yang biasa disebut Sultan Haji, putra Sultan Ageng Tirtayasa.

     Pada tahun 1675, keraton Surasowan tempat bertahtanya Sultan Ageng Tirtayasa terbakar. Hendrik Lucaasz Cardeel, seorang juru bangunan, mengaku melarikan diri dari Batavia, karena ingin memeluk agama Islam dan membaktikan dirinya kepada Sultan Banten.  Kemudian Cardeel ditugasi memimpin pembangunan istana, dan kemudian bangunan–bangunan lainnya, termasuk bendungan dan istana peristirahatan si sebelah hulu CiBanten,  yang kemudian dikenal dengan sebutan bendungan dan istana Tirtayasa.

     Lalu terjadi perebutan kekuasaan dikeraton oleh Sultan Haji, yang kemudian mengutus Cardeel, meminta bantuan kompeni dari Batavia. Dan Sultan Haji berhasil bertahta. Atas jasanya itulah Cardeel diberi gelar Pangeran Wiraguna.

     Beberapa tahun kemudian karena banyak yang tidak menyukainya, Pangeran Wiraguna pamit pada Sultan untuk pulang ke negrinya. Ternyata ia justru menetap di Batavia, bahkan kembali memeluk agama kristen. Ia menjadi tuan tanah yang kaya raya, memiliki tanah yang sangat luas, yang kini dikenal dengan  Ragunan (Wi_raguna menjadi ragunan ?) .  Bahkan makamnya saat ini masih dikeramatkan oleh masyarakat  kita.



KWITANG


     Nama ini berasal dari nama orang Cina yang kaya–raya bernama Kwik Tang Kiam. Kwik Tang seorang tuan tanah yang kaya dan hampir semua tanah yang terdapat didaerah tersebut miliknya. Kwik Tang memiliki seorang anak tunggal yang mempunyai sifat yang tidak baik, dia suka berjudi dan mabok.

     Karena sifat anaknya ini, setelah Kwik Tang meninggal, semua tanah milik bapaknya ini habis terjual dan banyak yang dibeli oleh saudagar keturunan Arab. Sehingga sampai sekarang daerah ini disebut Kwitang dan banyak keturunan Arab yang tinggal di kampung Kwitang.



LEBAK BULUS


     Nama kawasan tersebut diambil dari bentuk atau kontur tanah di wilayah itu dan nama jenis fauna. Lebak berarti “lembah” dan bulus adalah “kura – kura yang hidup di darat dan air tawar”, jadi dapat disamakan dengan lembah kura-kura. Mungkin pada jaman dulu di Kali Grogol dan Kali Pesanggrahan yang mengalir di kawasan tersebut banyak hidup kura–kura air tawar, alias bulus.



PASAR BARU


     Merupakan nama sebuah pasar yang ada di wilayah Jakarta Pusat. Sebutan nama Pasar Baru, karena pasar ini merupakan pasar yang dibuat belakangan setelah lingkungan sektor lapangan Gambir dibuka oleh Gubernur Jenderal Daendels. Daerah yang dibangun oleh Daendels sebagai pusat pemerintahan Hindi Belanda yang baru, daerah ini disebut Weltevreden ( tempat yg menyenangkan). Disekitar weltevreden telah ada pasar seperti pasar Tanah Abang dan Pasar Senen. Untuk membedakan satu sama lain, Daendels menyebut pasar itu sebagai Pasar Baru (Yang baru dibangun).



RAWA BADAK


     Rawa Badak berasal dari dua kata yang digabung. Rawa berarti tempat yang selalu basah karena banyak air dan badak berasal dari bahasa Sunda atau Jawa yang berarti besar atau luas. Maka bagi orang Sunda atau orang jawa daerah ini disebut dengan Rawa Badak yang artinya rawa yang luas.

     Daerah ini dimasa lalu  memang merupakan daerah rawa-rawa yang sangat luas.  Kemudian oleh para pendatang, rawa-rawa yang luas ini diuruk sehingga rawa-rawanya tertutup, menjadi daerah yang kering dan layak huni.



TIANG BENDERA


     Nama  Tiang Bendera berasal dari tiang bendera yang sehari– hari terpancang di depan rumah Kapten Cina pada pertengahan  abad kedelapanbelas, setelah selesainya pemberontakan Cina, tahun 1740.setiap tanggal 1 penanggalan Masehi, mulai tahun 1743, pada tiang bendera itu dikibarkan bendera, untuk mengingatkan warga Tionghoa untuk membayar pajak kepala, sewaan rumah dan sebagainya. Menurut F. De Haan, dikalangan orang–orang Cina di Batavia, tanggal 1 setiap bulan penanggalan Masehi biasa disebut “dag der vlaghijsching”, hari pengibaran bendera.



SENEN


     Nama Senen diambil dari sebutan terhadap pasar yang dibangun oleh Justinus Vinck, di ujung sebelah selatan jalan Gunung Sa(ha)ri, yang dulu bernama Grote Zuiderweg. Di kalangan orang–orang Belanda, pasar tersebut dikenal dengan sebutan Vinckpasser (pasar Vinck). Tetapi karena hari pasarnya pada awalnya ditetapkan hanya hari Senin, lalu disebut Pasar Senen. Berkat kemajuan dan semakin ramainya pasar itu, maka sejak tahun 1766 dibuka pada hari – hari lainnya.



PLUIT


     Nama Pluit berasal dari kata 'fluitschip' yang artinya kapal layar (bentuknya panjang dan ramping). Sekitar 1660 di pantai sebelah timur muara Kali Angke diletakkan sebuah fluitschip, bernama Het Whitte Paert, yang sudah tidak laik laut. Dijadikan kubu pertahanan untuk membantu Benteng Vijfhoek di pinggir Kali Grogol, sebelah timur Kali Angke, dalam rangka menanggulangi serangan-serangan sporadis pasukan Banten. Kubu tersebut kemudian dikenal dengan sebutan De Fluit, yang kemudian jadi t Pluit hingga sekarang.



PEGANGSAAN


      Dalam Majalah Intisari Juni 2002, Mohammad Sulhi menyatakan dugaannya, bahwa Pegangsaan, yang terkenal sebagai tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, “dulunya tempat angon atau pemeliharaan angsa”. Dugaan demikian mungkin saja benar, seperti halnya dugaan lainnya.

     Kemungkinan lainnya, kawasan tersebut dahulunya menjadi tempat pengrajin barang–barang dari perunggu, atau gangsa. Tempatnya biasa disebut pegangsan atau pegangsaan. Para pengrajin itu akhir abad ketujuhbelas membuka kawasan Matraman.


PASAR RUMPUT

     Merupakan sebutan nama pasar yang sekarang lokasinya ada di Jalan Sultan Agung Jakarta Selatan. Pasar ini sekarang telah menyatu dengan pasar Manggarai. Asal mula penyebutannya Pasar Rumput ini berasal dari adanya para pedagang pribumi yang menjual rumput dan sering mangkal dilokasi itu.

     Para pedagang rumput terpaksa mangkal dilokasi ini karena mereka tidak diperbolehkan masuk ke permukiman  elit Menteng. Masyarakat Menteng banyak yang memelihara  kuda sebagai sarana angkutan dan masa itu sado merupakan sarana angkutan yang banyak membawa penumpang orang  kaya keluar masuk lingkungan Menteng.



TANAH ABANG


     Menurut Tota M. Tobing (intisari, Agustus 1985), ada anggapan, bahwa nama Tanah Abang  diberikan oleh orang–orang Mataram yang berkubu di situ dalam rangka penyerbuan  Kota Batavia tahun 1628. Pasukan tentara Mataram tidak hanya datang melalui laut di utara, melainkan juga melalui darat dari selatan. Ada kemungkinan pasukan tentara Mataram itulah yang memberi nama Tanah Abang, karena tanahnya berwarna merah, atau abang menurut bahasa Jawa.

     Ada yang mengatakan pula bahwa nama itu pemberian oleh orang–orang (Jawa) Banten yang bekerja pada Phoa Bingham, atau Bingam, waktu membuka hutan di kawasan tersebut. Konsesinya diperoleh Bingam, Kapten golongan Cina, pada tahun 1650 . Mungkin karena pernah bermukim di Banten sebelum hijrah ke Batavia, seperti Benkon, pendahulunya, Bingam pun akrab dengan orang–orang Banten. Benkon pernah membebaskan  wangsa, seorang asal Banten,dari tahanan Kompeni dengan uang jaminan sebesar 100 real (tahun 1633).



SENAYAN
   

     Kawasan senayan mulai banyak dikenal sejak di sana didirikan sebuah gelanggang olah raga yang bertaraf internasional dengan nama Gelanggang Olahraga (Gelora) Bung Karno, yang dibangun awal tahun enampuluhan atas bantuan Pemerintahan Uni Sovyet pada jaman Perdana Menteri Nikita Sergeiwitsj Kruschev. Senayan semakin banyak disebut-sebut setelah dibangun Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia.

     Pada peta yang diterbitkan oleh Topographisch Bureau, Batavia, tahun 1902 kawasan Senayan masih ditulis Wangsanajan, atau Wangsanayan menurut EYD. Kata wangsanayan dapat berarti "tanah tempat tinggal atau tanah milik seseorang yang bernama Wangsanayan"�. Wangsanayan lamba laun berubah, menjadi lebih singkat, Senayan.

     Tidak mustahil, Wangsanayan tersebut adalah yang dimaksud oleh De Haan, sebagai salah seorang asal Bali, berpangkat Letnan, sekitar tahun 1680. Belum ditemukan keterangan lebih lanjut dari tokoh tersebut, demikian pula tentang sejarah yang berkaitan dengan kawasan yang sekarang dikenal dengan nama Senayan itu.




PEJAGALAN


     Nama Pejagalan berasal dari kata jagal atau pemotongan hewan. Pada masa lalu di kampung Pejagalan banyak tinggal orang keturunan Arab dan Pakistan. Mereka senang memasak nasi kebuli yang bahan bakunya adalah beras dan daging kambing karena banyak dan seringnya memotong  hewan kambing, maka daerah ini disebut dengan kampung Pejagalan.


KRUKUT


     Asal – usul nama kampung Krukut mempunyai beberapa versi diantaranya adalah:
  1. Krukut berasal dari sindiran yang di berikan untuk orang  yang hidupnya sangat hemat alias pelit (Krokot). Orang Betawi menyebut orang – orang Arab yang banyak tinggal dikampung itu dengan istilah Krukut, dengan merubah kata Krokot menjadi krukut.
  2. Krukut berasal dari kata kerkhof (bahasa Belanda) yang berarti kuburan. Pada masa lalu kampung tersebut merupakan tempat kuburan masyarakat pribumi (orang Betawi).

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help